A. LATAR BELAKANG
Di Indonesia terdapat sejumlah besar bahasa daerah yang masing-masing dituturkan sebagai alat perhubungan antarwarga masyarakat bahasa itu. Karena hidupnya berdampingan dengan bahasa Indonesia. Terjadilah proses pemengaruhan. Hal itu nampak sekali dalam bentuk kata dan perluasan kosa kata. Proses ini sebenarnya bersifat timbal balik. Dalam bahasa daerah masa kini dapat juga disaksikan masuknya unsur bahasa Indonesia, atau unsur bahasa asing yang diserap lewat bahasa Indonesia. (Tarigan,1995:20)
Menurut Hudson (1985: 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Dalam komunikasi peranan bahasa sungguh sangat penting. Informasi apapun yang disampaikan memerlukan bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi yang hanya dimiliki manusia. Di Indonesia kebutuhan dunia komunikasi terhadap bahasa Indonesia telah memungkinkan bahasa tersebut mengalami perkembangan yang cukup signifikan.
Bahasa Indonesia sebagai media komunikasi utama di Indonesia semakin menunjukkan kedewasaan dan kematangannya. Kita tahu bahwa masyarakat kita (Indonesia) sangat menjunjung kesantunan dalam berbahasa. Makna yang akan disampaikan tidak hanya terkait dengan pemilihan kata, tetapi juga cara penyampaiannya. Sebagai contoh, pemilihan kata yang tepat apabila disampaikan dengan cara kasar akan tetapi dianggap kurang santun.
Senada dengan pendapat (Sumarsono, 2013:31) bahasa merupakan alat komunikasi yang umum dalam masyarakat. Bahasa diucapkan dan didengar, bukan ditulis dan dibaca, disamping tetap ada yang diucapkan dan didengarkan. Seseorang yang memiliki kemampuan berbicara akan lebih mudah dalam menyampaikan ide atau gagasan kepada orang lain, keberhasilan mengunakan ide itu sehingga dapat diterima oleh orang yang mendengarkan atau yang diajak berbicara.
Di Indonesia sendiri didalam kehidupan sehari-hari masih banyak yang menggunakan bahasa daerahnya masing-masing, mereka beranggapan bahwa menggunakan bahasa Indonesia dalam sehari-hari akan terasa seperti bergaya dan berlebihan. Sesungguhnya manfaat dari berbahasa Indonesia ini yaitu memberikan atau melatih kita supaya terbiasa berbahasa Indonesia, sehingga apabila kita dalam sebuah forum yang formal kita akan mudah menguasai bahasa Indonesia yang sopan dan bisa memberikan pemahaman terhadap orang lain dengan jelas. Dalam bahasa Indonesia juga terdapat pengaruh bahasa dari beberapa media cetak baik tulis maupun media elektronik, dan juga ada pengaruhnya dari bahasa remaja atau yang dikenal dengan bahasa gaul, sehingga bisa jadi bahasa yang kita gunakan tidak sesuai dengan tata bahasa Indonesia.
Makalah yang saya susun ini akan membahas tentang: Apakah bahasa sebagai alat komunikasi yang digunakan oleh orang dewasa terhadap anak memiliki ciri khas? Apakah terjadi perubahan bentuk kata yang digunakan oleh Nenek/kakek terhadap cucunya dalam berkomunikasi? Apakah terjadi perbedaan pemilihan kosa kata jika orangtua berkomunikasi dengan anak dibandingkan orangtua berkomukasi dengan orangtuanya?
B. Pembahasan
1. Kelompok Umur dan Pilihan Bahasa Remaja
Umur adalah suatu fakta biologis yang karakteristiknya berimplikasi pada berbagai organisasi sosial dan beragam peraturan, seperti aturan umur sekolah, izin mengemudi, hak suara dalam pemilihan umum, wajib militer, pengadilan anak, atau perlakuan khusus pada manula. Tuturan juga merupakan salah satu dari karakteristik yang dapat mengungkapkan penilaian umur dan membedakan satu kelompok umur dengan kelompok umur lain.
Bahasa generasi muda (remaja) barangkali yang paling banyak diteliti dari semua variasi umur. Inti dari penelitian bahasa remaja itu adalah bagaimana fitur istimewa dari ujaran remaja itu dapat dideskripsikan. Beberapa peneliti mengatakan bahwa yang paling penting dalam penelitian semacam itu adalah sebuah register remaja dapat membedakan bahasa remaja dari bahasa anak-anak di satu sisi dan bahasa orang dewasa di sisi lain.
Peneliti lain mengatakan bahwa remaja merupakan penutur yang kompeten dalam bahasanya dan tidak tertutup dalam pilihan bahasanya. Ketika menyerap bahasa dengan mengembangkan kosakata dan jarak stilistiknya, mereka mengontrolnya secara penuh. Mereka sering memilih kata yang berbeda dari orang dewasa. Misalnya, dalam berbicara bahasa Inggris, remaja menggunakan lebih banyak negatif ganda, seperti “I don’t know nothing about computers, daripada pembicara dewasa dalam kelas sosial yang sama.
2. Ciri khas bahasa yang digunakan orangtua terhadap anak dalam keluarga
Pada saat orangtua menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi terhadap anak-anaknya, mereka sudah memiliki tujuan tertentu. Mereka ingin dipahami oleh anak-anaknya. Orangtua ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh anak-anaknya. Orangtua menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasarannya.
Dalam tahun-tahun awal perkembangan, pertama kali anak akan mengenal bahasa yang digunakan orangtuanya karena pada umumnya orangtua adalah orang yang paling dekat dengan anak. Anak akan memahami bahasa tersebut dan tentunya akan mewarisinya. Pilihan kata dan bentuk kata serta jenis bahasa yang digunakan orangtua terhadap anak akan berperan dalam perkembangan kebahasaan anak sehingga menyerupai orangtuanya. Ada pepatah mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, ini berarti setiap anak akan memiliki tutur kata dan cara berkomuikasi yang tidak jauh dari orangtuanya walaupun pada kenyataannya dalam beberapa kasus terdapat ketidaksesuaian.
Anak-anak sudah menguasi tata bahasa, bahasa ibunya sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan orang dewasa secara sempurna. Pada awal perkembangannya bahasa anak-anak mempunyai ciri adanya penyusutan (reduksi). Menurut Roger Brown Ursulla Bellugi dalam Chaer (2004:58), yang disusutkan adalah golongan fungtor atau kata tugas (kata depan, kata sambung, dan partikel). Kata-kata yang tetap bertahan dalam tutur kata mereka adalah kata-kata yang tergolong kontetif atau kata penuh, yaitu kata yang mempunyai makna sendiri jika berdiri sendiri. Karena itu hilangnya fungtor tidak akan mengurangi isi makna suatu kalimat dank arena itu kalimat mereka masih bisa dimengerti oleh orang dewasa.
Penghilangan fungtor dan dipertahankannya kontetif itu membuktikan tutur anak-anak itu teratur dan sistematis dan hal itu bukan merupakan ketidak mampuan atau kebingungan anak, melainkan harus dianggap suatu strategi untuk berkomunikasi dan menguasai kaidah tata bahasa berikutnya. Karena dengan cara itu, tutur kata mereka bisa dipahami oleh orang dewasa. Dengan cara ini kita kita bisa mengatakan anak sebenarnya sudah mampu menguasai hubungan abstrak dalam kalimat, antara ‘subjek’ dengan ‘predikat’ . Jika anak ‘ yang bernama Rini mengatakan ‘makan meja’ yang dimaksud antara lain ‘Rini (saya) makan di meja’. Hilangnya kata ganti (Rini, saya) dan kata depan (di) tidak mengurangi pengertian dan pemahaman kita terhadap kalimat itu. Kalimat’beli satu’ maksud kalimatnya ’saya akan membeli satu’
Adapun ciri universal dalam tutur anak-anak ditinjau dari segi fonologi. Misalnya, bunyi–bunyi yang dihasilkan oleh gerak membuka dan menutup bibir yang biasa disebut bunyi bilabial, merupakan bunyi- bunyi yang sangat umum dihasilkan oleh anak-anak pada awal ujarannya. Orang pertama dan paling dekat dengan anak-anak pada masa awal perkembangannya bahasanya adalah ibunya.
Memanggil anggota keluarga dengan memperpendek kata-katanya (ada bagian yang dihilangkan) Bu (untuk ibu),mom ( untuk bahasa Inggris), mak (untuk bahasa Jawa), ma (untuk bahasa Cina) , mi (untuk bahasa belanda). Bunyi bilabial yang dihasilkan ini muda dipahami karena bunyi-bunyi iinilah yang paling mudah diproduksi. Kata lain yang biasa dihasilkan misalnya Yang (untuk eyang), Kek (untuk kakek), Bi (untuk bibi). Menyebut kata benda, kerja, dan sifat dengan memperpendek (menghilangkan bagian tertentu) mam( untuk kata maem ‘makan’), num (untuk kata minum), nak (untuk kata enak), yam (untuk kata ayam), ndi (untuk kata mandi), pu (untuk kata menyapu), bok (untuk kata bobok ‘tidur’), Menghilangkan imbuhan pada kata yang seharusnya mendapatkan imbuhan, contoh kata baca (untuk kata membaca), tulis (untuk kata menulis), lari (untuk berlari), jalan (untuk kata berjalan).
Bunyi yang sulit diproduksi adalah bunyi /r/, bahkan anak usia 3 tahun pun ada yang masih kesulitan memproduksi /r/ /l/ dan /g/ dengan benar, anak-anak akan membunyikan dengan/l/ misal /rumah/ akan diucapkan/lumah/. Anak usia 2-3 tahun kosa katanya akan mencakup aktivitas keseharian mereka: makan, minum, main, dan tidur. Mengajarkan nama benda-benda atau orang-orang yang berada di sekitarnya tidak hanya sekadar memahaminya tetapi harus diiringi dengan cara penggucapannya karena anak-anak yang baru pandai berbicara belum dapat mengucapkan kata-kata dengan benar. Oleh karena itu, orangtua atau orang-orang yang disekitarnya harus mengajarkan cara mengucapkan kata-kata itu dengan baik dan benar, supaya anak mampu berbahasa dengan baik dan benar.
Menurut Zulkifli H memasuki tahun kedua, anak sudah menyadari bahwa semua benda mempunyai nama sehingga mulai saat ini anak lagi senang-senang bertanya. Pada masa ini, terjadi kesukaran berkata-kata karena perkembangan kemamuan dan keinginannya lebih cepat daripada kekayaan bahasannya. Pada tahap usia ini sebenarnya anak akan berceritera, tetapi perbendaharaan kata-katanya belum mencukupi maka ia melengkapinya dengan gerakan-gerakan tangan dan kakinya.
Menurut Henri Guntur Tarigan bahasa itu adalah kebiasaan. Semakin sering latihan berbicara semakin terampil anak berbicara, begitu pula sebaliknya lingkungan yang jarang melatih anak berbicara semakin besar kemungkinan anak jadi pendiam. Yang perlu dicermati adalah bagaimana upaya orangtua meminta anak untuk mengomentari apa yang ada di sekitar anak termasuk tontonannya.
Menurut Peaget, percakapan anak-anak yang berusia 3,6 - 7,0 tahun bersifat egosentris yaitu bahasa yang lebih menonjolkan keinginan dan kehendak seseorang/dirinya. Anak menangkap percakapan kemudian diulanginya untuk dirinya sendiri. Sambil bermain ia berkata kata tentang sesuatu yang dikerjakannya, tetapi ia tidak menunjukkan pembicaraan itu pada orang lain seperti bertukar pikiran dan untuk memengaruhi orang lain.
Sebelum anak selesai berbahasa egosentris, ia belum siap untuk mulai berbahasa sosial. Sesudah berbahasa egosentris percakapan anak-anak berangsur angsur berkembang menjadi bahasa sosial.
3. Terjadi perubahan nama benda/peristiwa yang digunakan oleh nenek/kakek terhadap cucunya dalam berkomunikasi.
Orang dewasa akan mengganti beberapa kata yang menurutnya kurang pantas diucapkan, misalnya pup (untuk buang air besar), nenen (untuk menyusu). Kata yang penggantinya sangat sederhana dan mudah diingat dan memiliki konotasi yang umum atau lazim. Kata-kata pengganti ini apakah sama di seluruh wilayah Indonesia? Perlu dilakukan penelitian/kajian lebih lanjut.
4. Terjadi perbedaan pemilihan kosa kata jika orangtua berkomunikasi dengan anak dibandingkan orangtua berkomukasi dengan orangtuanya.
Seiring perkembangan usianya orang dewasa akan mengajarkan bahasa dengan ragam yang diterima masyarakat, ragam yang lebih sopan. Ini sangat tampak dalam bahasa Jawa, misal kata siram (untuk makna mandi), juga akan dikenakan pada anaknya, dengan maksud agar anaknya juga mengatakan siram untuk berbicara dengan orang yang lebih dewasa. “Adik siram dulu” kalimat ini kalimat yang salah tetapi oleh orang dewasa sengaja digunakan agar anak meniru hal yang sama untuk orangtuanya atau neneknya. Hal ini menampakkan bahwa dengan meng-kromoinggil-kan terhadap anaknya, anaknya akan berlaku yang sama kepada orang lain, hal ini menambah nilai plus, atau mempunyai prestise yang tinggi dimata masyarakat.
Memasuki usia SD anak-anak mendapat pembelajaran bahasa di sekolah. Anak yang memiliki dasar bahasa di rumah dengan baik akan tidak mengalami kesulitan belajar bahasa di sekolah, sebaliknya yang di rumah kurang memiliki dasar yang baik akan mengalami kesulitan dalam belajar bahasa. Dasar bahasa yang baik dari rumah itu berupa bentuk-bentuk bahasa yang lazim dan benar, baik bahasa ibu, bahasa Indonesia, maupun bahasa asing.
Pilihan kata yang digunakan oleh orangtua untuk berkomunikasi dengan orangtuanya akan lebih netral dan terbuka, artinya kata yang digunakan lazimnya berkomunikasi dengan khalayak tanpa ada kata-kata khusus untuk kelompok mereka.
3. Pilihan Bahasa sebagai Cermin Sebuah Generasi
Bahasa dalam perspektif lintas generasi memperlihatkan bahwa setiap generasi memiliki “kreasi” bahasa yang berbeda dengan bahasa yang digunakan pendahulunya. Perbedaan linguistik antargenerasi itu bertalian erat dengan perbedaan pilihan bahasanya. Hal itu menyebabkan generasi muda “seolah-olah” berbeda “bahasa”-nya dengan generasi pendahulunya. Semua itu terjadi karena (1) kebutuhan komunikasi lambat laun berubah dan memaksa setiap generasi baru melakukan penyesuaian bahasa untuk disesuaikan dengan pengalaman mereka serta (2) pada waktu tertentu kebutuhan dan kemampuan komunikasi dari generasi terkini berbeda dengan pendahulunya.
Dua fakta itu menjelaskan bahwa umur dan perbedaan generasi merupakan faktor yang menyebabkan variasi khusus dalam pilihan bahasa. Sistem linguistik dari tiga generasi yang berurutan (Gn—Gn+2) menunjukkan bahwa ada perbedaan tuturan dari Gn dan Gn+1.
Dalam hal itu, ada perbedaan penggunaan bahasa pada generasi terdahulu (Gn) dengan generasi berikutnya (Gn+1 dan Gn+2). Namun, generasi terkini dapat saja menggunakan pilihan bahasa dari generasi sebelumnya dan dapat juga pilihan itu hanya meliputi generasi tertentu. (Sumarsono 2013:52-53).
Dalam konteks bahasa sebagai sebuah tradisi, bahasa harus diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan cara berkomunikasi. Kasus kematian bahasa dari suatu tradisi adalah bukti adanya jarak komunikasi yang bersifat antargenerasi. Pada peristiwa itu, para penutur dari generasi Gn+1 gagal menggunakan suatu bahasa dengan cara yang sama seperti generasi Gn. Ketika hal itu terjadi, ada pengurangan keterampilan dan penggunaan bahasa yang berhubungan dengan penggantian generasi dari para penutur bahasa itu. Suatu bahasa akan segera mati sebagai bahasa lisan karena tidak seorang pun memilih dan berbicara dengan bahasa itu. Kasus itu adalah kasus yang ekstrem sebagai akibat jarak komunikasi intergenerasi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa umur membedakan cara berbicara. Ada perbedaan kata yang digunakan. Seorang remaja tentu tidak akan berbicara seperti seorang yang berusia 80 tahun. Setiap bahasa meliputi ungkapan, pengucapan kata, dan konstruksi yang telah dipakai dalam jangka waktu yang lama. Ungkapan, pilihan kata, dan konstruksi itu dipilih oleh penutur dari generasi yang berbeda dengan frekuensi yang berbeda pula. Lebih dari itu, ada bagian bahasa, lebih-lebih pada tataran leksikal dan sintaksis, yang dirasakan berbeda oleh para penutur yang “modern” dengan yang “kuno”.
Apa pun alasannya, dikotomi “modern dan kuno” mengingatkan kita pada fakta bahasa sebagai suatu formasi yang tidak monolitis yang dengan jelas dapat dibedakan begitu saja dari yang sekarang dan yang akan datang. Namun, suatu sistem yang berubah terus-menerus atau yang permanen meliputi unsur-unsur dari ketahanan variabel bahasa. Ungkapan kuno tidaklah disediakan untuk penutur yang “berpandangan modern” atau “bahasa generasi tua” disediakan untuk penutur muda. Memang, akan ada kecenderungan ke arah itu seandainya para penutur yang lebih tua hanya mengetahui ungkapan yang kuno dan ungkapan yang modern hanya identik dengan orang muda.
Dalam tataran ekspresi linguistik, kata dan ungkapan yang digunakan dalam rentang waktu merujuk pada variabel waktu. Dalam tataran itu perlu dipahami bahwa suatu generasi yang berbeda yang hidup pada masa yang sama dan menggunakan suatu bahasa yang umum dimungkinkan akan mengunakan bahasa dengan cara yang tidak sama.
4. Hubungan Pilihan Bahasa dengan Faktor Umur
Perbedaan kosakata antarkelompok umur adalah faktor yang paling mudah teramati dari hubungan pilihan bahasa dengan umur. Dalam tataran bunyi bahasa, misalnya, sosiolinguis William Labov (1972) mendapati bahwa orang dewasa di New York lebih kecil kemungkinannya untuk mengucapkan bunyi /r/ dalam kata-kata seperti fourth dan floor daripada orang yang lebih muda umurnya. Sementara itu, Chambers dan Trudgill (1980) menemukan bahwa di daerah Norwich, Inggris, pengucapan /e/ dalam kata seperti bell dan tell berbeda bergantung pada umur penuturnya.
Contoh lain, misalnya bahasa Comanche, salah satu bahasa Indian yang digunakan di kawasan selatan Amerika Serikat, memiliki versi dengan kosakata khusus (dan pola pengucapan khusus) yang hanya digunakan oleh anak balita. Dalam bahasa Indonesia, dari pengalaman sehari-hari, kita mengetahui bahwa ada banyak kosakata yang digunakan remaja--dengan bahasa gaulnya-- kadang-kadang tidak dipahami oleh para orangtuanya. Kita juga dapat merasakan perbedaan diksi kelompok kanak-kanak dengan diksi remaja ketika mereka berbicara.
Namun, ada perbedaan linguistis lain antarkelompok umur yang mungkin tidak tampak di permukaan. Sebagai contoh, kita dapat mengamati penutur bahasa Jawa ketika berbicara dengan yang lebih tua. Mereka akan memilih ngoko-krama-krama madya-krama inggil sesuai dengan undha-usuk atau tingkatan bahasa yang terimplikasi dalam diksinya. Dalam hal menyampaikan kritik atau koreksi, misalnya, mereka yang lebih muda memiliki kecenderungan memilih pernyataan seperti "meniko klentu" (itu keliru) atau "ora ngono" (bukan seperti itu) daripada memilih ungkapan "wah, sajakipun meniko lepat" (wah, tampaknya itu salah) atau "meniko dereng temtu leres" (itu belum tentu betul) ataupun ungkapan taklangsung lain seperti "kula kinten meniko kirang tepat" (saya kira itu kurang tepat). Hal itu mengisyaratkan bahwa ada ragam kesantunan dalam bahasa Jawa antargenerasi dan semua contoh itu menegaskan bahwa struktur bahasa dapat mencerminkan cara sebuah budaya memandang dunia dan hubungan sosial yang dianggap penting oleh budaya itu. (Gunarwan, 2003:217—219).
C. Penelitian yang sudah dilakukan dalam jurnal dan buku :
Alamsyah, Teuku . 2012. Pemilihan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Pertama Anak dalam Keluarga Masyarakat Aceh Penutur Bahasa Aceh di Nanggroe Aceh Darussalam. Malay Language Journal Education (MyLEJ) Vol. 2. Mainizar. 2011. Peranan Orag Tua dalam Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pada Anak Usia 2-6 Tahun. Theresia Nurmalita. 2010. Pengaruh Penggunaan Bahasa Lokal dalam Keluarga terhadap Pembentukan Karakter Anak . Riau: Jurnal UIN. Vol 1. Hassanudin, Muhamadi. 2012. Pengaruh Bahasa Indonesia dalam Masyarakat. Yogyakarta: Universitas Negri Yogjakarta.
C. Implikasi
Orang dewasa wajib memberikan contoh yang benar dalam pengucapan dan penerapan kosa kata agar anak dapat mengimitasi dengan tepat pula. Pengajar di sekolah-sekolah usia dini sebaiknya memberi teladan pengucapan kosa kata yang baik dan benar.
Pengetahuan perkembangan bahasa pada anak bermanfaat bagi pendidik dan orangtua dalam memilih bacaan yang sesuai dengan perkembangan bahasa anak ( Tarigan, 1995: 27). Agar perkembangan bahasa anak berkembang pesat, pendidik bisa menggunakan gambar, bacaan bergambar, dan cerita bergambar dalam kegiatan belajar mengajar. Berikanlah kesempatan kepada anak-anak untuk kegiatan berbahasa lisan dengan berbagai media yang ada di sekitar.
D. Kesimpulan
Kosa kata yang digunakan oleh orang dewasa kepada anak-anak dalam berkomunikasi sebagian kecil berbeda dengan kosa kata digunakan oleh orang dewasa kepada sesama orang dewasa dalam berkomunikasi.
Orang dewasa sengaja membuat kesalahan pengucapan kata kepada anak usia dini. Kesalahan ini dilakukan untuk memperlancar komunikasi dengan mereka. Kesalahan ini terjadi secara umum dan tidak disadari dilakukan turun temurun.
Pemerolehan bahasa pada anak sesudah usia balita akan banyak disokong oleh sekolah dan lingkungan pergaulannya. Komunikasi dengan orang dewasa semakin lancar karena jumlah kosa kata mereka bertambah dengan pesat. Apalagi ditunjang dengan kemajuan teknologi dan sarana teknologi yang mereka miliki.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik : Perkenalan Awal. Jakarta: Rineke Cipta.
Chambers, J. dan Trudgill, P. 1980. Modern Dialectology. Cambridge: Cambridge University Press.
Gunarwan, Asim. 2003. ”Persepsi Nilai Budaya Jawa di Kalangan Orang Jawa: Implikasinya pada Penggunaan Bahasa” dalam PELBA 16. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Hudson, R. A. 1985. Sosiolinguistic. New York: Cambridge University.
Labov, William. 1972. Sosilinguistic Patterns. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
Mainizar. 2011. Peranan Orang Tua dalam Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pada
Anak Usia 2-6 Tahun. Riau: Jurnal UIN. Vol 1.
Sumarsono. 2013. Sosiolinguistik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Tarigan, Henry Guntur. 1995. Dasar-Dasar Psikosastra. Bandung: Angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar